Tak asing lagi bagi kita bahwa pesantren merupakan salah satu lembaga ilmu yang ada di negara kita, Indonesia. Pesantren memiliki keunggulan dibanding dengan pendidikan lainnya. Di pesantren, para santri tidak hanya mendapatkan ilmu dari guru mereka. Melainkan lebih dari itu, mereka juga mendapat bimbingan dan didikan akhlak dari para pengurus atau kiai.

Kepribadian, watak, latar belakang pendidikan, dan ideologi agama sang kiai, sangat menentukan terhadap model maupun sistem pesantren yang diasuhnya. Oleh karena itu, seperti yang ada di sekitar kita, kita dapat menemukan beragam model pesantren. Pesantren khalaf, salaf, modern, tradisional, dan sebagainya.

Deskripsi tentang keadaan pesantren tersebut dapat kita temui dalam salah satu novel karya penulis produktif, Taufiqurrahman Al-Azizy, yang berjudul, “Kidung Sholawat Zaki dan Zulfa”. Dalam novel ini, digambarkan tentang keadaan dua kiai yang sangat berbeda prinsipnya. Dua kiai yang berbeda inilah, yang menemani dan menjadi saksi bisu dari perjalan kisah cinta tragis Zaki dan Zulfa.

Dikisahkan, sudah terjalin persahabatan yang sangat erat antara Kiai Masduqi dan Kiai Ahmad. Keduanya merupakan teman seperjuangan ketika menuntut ilmu di masa muda. Demikian pula antara Nyai Halimah istri Kiai Masduqi dan Nyai Nilam istri Kiai Ahmad. Di antara keduanya juga terjalin persahabatan sejak lama. Karena persahabatan yang melebihi persaudaraan itulah, dua kiai dan nyai tersebut, sepakat untuk menjodohkan kedua anaknya, Zaki (putra Kiai Masduqi) dan Zulfa (putri Kiai Ahmad).

Namun sayang, hubungan keduanya tak semulus yang diharapakan. Pertunangan antar keduanya harus tertunda karena adanya masalah mendadak dari pihak Kiai Masduqi. Dan tak dinyana pula, masalah inilah yang kemudian menjadi lantaran retak dan rapuhnya persahabatan antara keduanya. Tangis dan jerit masyarakatlah yang rumahnya akan digusur yang menggagalkan rombongan Kiai Masduqi yang berada di tengah perjalanan menuju acara pertunangan di rumah Kiai Ahmad.

Hal tersebut pastinya membuat kecewa dan sakit hati Kiai Ahmad, keluarga, dan pastinya Zulfa, yang akan dilamar. Terlebih ketika melihat para tamu undangan yang pulang dengan mengantongi wajah yang kecewa. Zulfa mengungkapkan rasa kecewa yang dirasakan olehnya dan keluarganya lewat sepucuk surat yang dikirimkan pada Zaki. Zaki membalasnya dengan sowan menghadap keluarga Zulfa. Beribu kata maaf dan penyesalan yang tak terhingga terlontar dari mulutnya. Namun, kekecewaan itu masih tak terobati jua. Tanyanya, kenapa urusan mereka lebih penting dibanding pertunangan anak mereka sendiri? Sepenting apakah urusan mereka? Sedang Kiai Masduqi tetap dalam pendiriannya, bahwa jerit dan tangis rakyat—yang kebanyakan wali dari santri Kiai Masduqi—adalah hal yang lebih penting. Bagaimana rumah tempat keharmonisan dan cinta antar keluarga yang terlahir dapat hancur seketika. Tidak mungkin!

Kendati Kiai Masduqi dan Kiyai Ahmad merupakan sahabat, sebenarnya antara keduanya memiliki prinsip dan keadaan yang sangat bertolak belakang. Kiai Masduqi yang sangat sederhana dan bersahaja, serta memiliki santri yang juga dari kalangan rakyat miskin. Bangunan maupun fasilitas pesantren jauh dari kemewahan. Sedang Kiai Ahmad, bangunan pesantren yang megah dan fasilitas yang sangat mewah. Wali santri maupun kolega-kolega beliau berasal dari kalangan menengah ke atas—para pengusaha, pejabat, dan sebagainya.

Sejak acara pertunangan tersebut, hubungan keduanya tidak normal lagi. Terlebih ketika Dimas sebagai orang ketiga, semakin menunjukkan kemesraannya dengan Zulfa. Dimas pulalah yang setia mengantarkan Zulfa setiap ada pemotretan di Jakarta. Sungguh banyak masalah yang muncul kemudian. Zaki difitnah memperkosa Evine, salah satu santri Kiai Ahmad. Sejak saat itu, Kiai Masduqi sudah tidak dipercayai lagi oleh para santri dan masyarakat sekitarnya. Semua santri, memutuskan untuk pindah menjadi santri Kiai Ahmad.

Cobaan datang mengalir deras dan bertubi-tubi. Zaki dipenjara dan tak ada satupun lagi pengacara yang sanggup membantu Zaki. Rumah tempat perjuangan Kiai pun dijual sebagai salah satu usaha untuk menyewa pengacara Zaki.

Dan yang lebih membuat tak kuasa lagi, ternyata Kiai Masduqi telak menghadap kehadirat-Nya di tengah peliknya masalah yang sedang melanda. Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.

Begitulah sekelumit kisah yang terdapat dalam novel ini. Taufiqurrahman Al-Azizy berhasil menyajikannya dalam bahasa yang sangat sederhana, namun sarat makna. Penggambaran perilaku tokoh yang sangat menciri khaskan pesantren, menambah tenggelamnya para pembaca dalam menikmati kisah dalam novel ini. Tak hanya itu, dalam setiap babnya, novel ini juga disertai dengan kidung-kidung sholawat jawa yang sangat mengena dan cocok dengan kisah yang diceritakan. Yakni, yang menjadikan pesantren jawa sebagai latar tempat tinggal para pemainnya.

Selain itu, tak hanya kisah kasih asrama Zaki dan Zulfa yang mempesona. Namun, tak kalah serunya pula, kisah persahabatan antar dua kiai yang saling bertentangan prinsip. Kisah dua pesantren yang bertentangan dalam novel ini, dapat menyingkap tabir keadaan sebenarnya dari beberapa pesantren yang terjadi di sekitar kita.

Seperti adanya pepatah tak ada gading yang tak retak, demikian juga dengan apa yang terjadi dalam novel ini. Tak adanya pemisah antara satu bagian cerita pada cerita yang lain, membuat sedikit bingung pembaca. Bahkan di awal cerita peresensi berhenti sejenak untuk membedakan mana kisah yang terjadi pada saat itu dan mana kisah masa lalu yang sedang diceritakan. Beberapa penggal tulisan yang tertera dalam kotak di beberapa halaman juga dirasa kurang cocok. Biasanya penulis memilih kata-kata mutiara, kata-kata bijak, atau kata-kata yang penting dari penggalan kisah untuk ditempatkan di dalam kotak tersebut. Tapi sayang, tidak demikian dengan yang ada dalam novel ini. Terkadang ada kata-kata biasa yang juga dicantumkan dalam kotak tersebut.

Meski demikian, adanya kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan, tidak mengurangi nikmatnya membaca novel ini. Ada banyak pertanyaan memang, jawabnya? Tentu tergantung pula pada wawasan dan pemahaman masing-masing pembaca. Yang jelas novel ini termasuk istimewa.

Data Buku
Judul : Kidung Sholawat Zaki dan Zulfa
Penulis : Taufiqurrahman Al-Azizy
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : I, Desember 2010
Tebal : 403 Halaman
ISBN : 978-602-978-141-5

*resensi ini telah dimuat di Radar Surabaya, 15 Mei 2011