
Malam adalah sahabat bagiku. Dia selalu mendengar apa yang menjadi keluhanku. Ia juga menjadi motivator bagiku untuk selalu bersujud padaNya.
Malam hening itu…
Pak Arif, beliau adalah salah satu guru yang sangat kukagumi di universitas baruku ini. Beliau sungguh kharismatik, jujur, tegas, disiplin, dan sangat perhatian terhadap para mahasiswanya. Suatu ketika Beliau berkata:“ Janganlah kita menganggap bahwa semua kesulitan adalah musibah, begitu pula janganlah kita menganggap bahwa semua kebahagiaan adalah anugerah”.
Entah mengapa, akhir-akhir ini…, petuah tersebut selalu mewarnai hari-hariku disetiap ruang dan waktu. Hingga rasanya, tak lagi kudengar kata-kata yang lain. Ya Allah….., apa maksud semua ini???
Malam pergi untuk datang kembali, ia pergi menemani hamba-hamba-Nya di belahan bumi lain untuk bersujud pada-Nya, dan secara perlahan mentari pagi mulai menampakkan senyum nya…
Rutinitas pagi ini, ku lalui dengan penuh suka. Walaupun kicauan burung camar, lambaian hijau daun dan sapaan udara pagi nan sejuk yang telah menjadi “keluarga”-ku, sudah tak kujumpai lagi sejak 3 bulan terakhir ini. Mereka telah berubah. Suara bising buldoser yang berasal dari bangunan-bangunan tua yang berada disamping kost ku seakan menjadi “monster-monster” pengganggu kenyamanan hidup. Tak pernah kubayangkan sebelumnya.…!!
“Nadiyah wewet…… !!! cepat! Kita sudah terlambat 5 menit nih!!.” Kata Nia dan Titi, teman satu kostku. Seperti biasa, aku selalu membuat mereka “menunggu” ketika kami akan berangkat kuliah. Mereka selalu marah-marah kepadaku dalam dua hal. Pertama, ketika mereka harus menungguku ketika akan berangkat kuliah dan kedua, jika kecerewetanku kambuh. Aku memang terkenal cerewet didepan teman-teman, guru-guru dan keluargaku. Hingga aku punya sebutan abadi yang sampai saat ini sangat melekat padaku, yaitu “wewet”, alias Nadiyah cerewet. Apalagi adikku, ia paling gemar memanggilku dengan sebutan itu. Dengan sedikit suara yang dibuat-buat, tak jarang ia membuatku marah dan jengkel. Aku terlahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Keluarga kami adalah keluarga konglomerat yang cukup terpandang. Hal itu membawa pengaruh besar bagiku di sekolah. Akupun cukup terpandang karenanya, namun aku tak buta. Aku sadar semua itu adalah amanah dari Allah.
Tengah pelajaran berlangsung…
“Ya, coba kamu Nadiyah, simpulkan keterangan akhir yang bapak sampaikan tadi.” Suara Pak Arif mengagetkanku. “Jangan kita menganggap bahwa semua kesulitan adalah musibah, begitu pula janganlah kita menganggap bahwa semua kebahagiaan adalah anugerah”. Jawabku sedikit tersentak namun dengan lantang dan penuh keyakinan. “Ha.. ha…ha,” Teman-teman sekelas menertawaiku. “Nadiyah..!! tadi beliau menerangkan kondisi social politik di Negara kita”. kata Iffah teman sebangkuku. Ya Tuhan…, lagi-lagi petuah itu menguasaiku!
TeeeT ……3x
Tak lama setalah bel berbunyi, Iffah memanggilku, “Nadiyaaah!! Pak Arif memanggilmu.” Aku terdiam sejenak lalu dengan cepat memenuhi panggilan Pak Arif. Untuk kesekian kalinya Pak Arif menasihatiku. Dengan suara teduhnya ia bertutur, “Nak… memang kita harus sabar dalam menghadapi hidup. Apapun yang telah tuhan berikan setelah adanya usaha dari kita, itulah yang terbaik. Kita pun pasti bisa melewatinya...”. disaat aku sibuk mencerna kata-kata Pak Arif, tiba-tiba Beliau mengagetkanku, “Oh ya! Bagaimana keadaan keluargamu di rumah? Ayahmu masih bekerja sebagai direktur Bank itu kan? Dan Ibumu?.”Tanya beliau dengan penuh tanya. “Alhamdulillah pak, beliau berdua dalam keadaan sehat dan tetap menjalankan rutinitas masing-masing disetiap harinya.” Jawabku dengan sopan. Pertemuan siang tadi membuat keherananku bertambah, entah mengapa, sejak sebulan terakhir ini, Pak Arif sering menanyakan kondisi keluargaku dan menasihatiku untuk selalu mendo’akan mereka. Namun kuanggap saja hal itu sebagai wujud kasih sayang dari orang yang sangat kuhormati dan kusegani. Hah…Beruntungnya aku, lirih batinku.
Hari berganti hari, aku menjalani roda kehidupanku seperti biasa. Hingga pada suatu hari, tepatnya seminggu setelah Pak Arif memanggilku, perasaanku tak enak. Entah, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tepat ketika bel pulang berbunyi, kembali pak Arif memanggilku. Kali ini, beliau lebih santai dan rileks. Akupun berusaha demikian walaupun sebenarnya hatiku berkecamuk. Panggilan kali ini tak seperti panggilan-panggilan sebelumnya. Beliau datang sendiri memanggilku. Dengan terbata-bata, dan sangat hati-hati, beliau memberi tahuku kabar yang sangat membuatku terpukul. Lebih membuatku terpukul lagi setelah aku tahu ternyata orang tuaku telah mengetahuinya lebih dahulu dari padaku. Mengapa bukan mereka saja yang memberi tahuku, walaupun kutahu mungkin ini kebijakan universitas? bukankah aku anakanya? dan aku bisa menangis dipangkuan mereka setelah mendengar kabar itu meskipun aku tak tahu apa penyebabnya. AKU DIKELUARKAN DARI UNIVERSITAS….!!!
Takut, heran, dan tak habis pikir. Itulah yang berada di benakku saat ini. Tak ada yang menjelaskan sesuatu padaku. Bahkan P. Arifpun tak berkenan menjelaskannya. “Ayah mu yang akan menjelaskan”, jawab beliau. Singkat dan mengundang penuh tanya. Saat ini, aku ingin pulang dan segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pikiranku kian tak menentu. Pada teman-temanku, ku ambil selembar kertas dan sebuah pena,
Sobat ……
Bukan tak ingin untuk selalu bersama kalian. Sayang kalian itu pasti.
Namun saat ini…
Bagai merajut angan dalam mimpi, tak mungkin bersama lagi.
Aku harus beranjak dari pelukan kalian hanya karena masalah yang tak ku mengerti…
Sobat…
Terima kasih atas cinta yang kalian berikan, maaf atas segala alpa…"
Deraian air mata tak pernah lepas dari hari-hariku kini. Pertanyaan dari teman-teman tak ada satu pun yang kujawab. Aku bingung harus menjawab apa. Kuputuskan untuk bungkam.
“Surga” yang kurindu telah didepan mata. Ya Allah… Kuatkan hamba untuk mendengar dan menerima apa yang sebenarnya terjadi…
Kupandangi dan kuciumi mereka satu persatu dengan penuh rasa sayang, keluargaku yang kucinta. Semua tersenyum menyambut kedatanganku. Akupun berusaha tersenyum, walau ku tahu genangan air di mata bening ibu, berusaha dibendungnya. Namun ayah tidak bersama mereka. “Ya, ayah pasti ada di BANK”, batinku.
Ya Allah…! Inikah jawaban dari semuanya? Akankah ayahku melakukan hal ini? Tidak mungkin!! Tidak!!! Ayaaaa…….h!!!.
Segera ku temui ibu untuk meminta penjelasan dari surat yang tak sengaja kutemukan di meja kerja ayah. Dengan isak tangis, Ibu menjelaskan semuanya kepadaku.
Kejadian itu bermula sejak tiga tahun lalu. Beliau dituduh menggelapkan uang BANK. Tiga tahun proses pengadilan dijalani. Selama itu pula, ibuku berusaha tegar dan menyembunyikan masalah ini padaku dan adikku. Namun tak disangka, keputusan akhir tidak memihak pada ayahku. Sejak satu minggu yang lalu, beliau tidak tinggal dengan kami. Dia harus tinggal di rumah barunya selama tiga tahun. Rumah tahanan yang berjarak 5 KM dari rumah kami. Ternyata inilah yang membuatku harus meninggalkan sekolah. Mereka tak mau menerima mahasisiwa yang memiliki riwayat keluarga narapidana. Banyak hal yang ku merasa janggal dengan ketentuan masalah ini. Diantaranya, bermilyar uang dapat membebaskan ayahku dari tuduhan itu. Mengapa harus demikian? Sebegitu besarkah peran uang yang fana itu? Bukankah ini merupakan tindak penindasan hukum bagi yang lemah? Sedang mereka yang mampu, bisa tertawa lepas dengan keputusan itu!
Keesokan harinya …
Aku berusaha tegar melewati jeruji-jeruji besi kotor nan angkuh yang berbaris rapi itu, aku pandangi mereka untuk mencari orang yang kusayangi. Di salah satu ruangan, aku melihat sesosok tubuh yang semakin kurus, mata yang nampak lelah, namun senyum masih selalu menghiasi wajahnya. Tiba-tiba air mataku mengalir deras, sederas tekadku untuk membuktikan ke-tidakbersalahannya dan orang-orang yang telah menjadi ‘korban penindasan hukum’.
Namun aku tak kuasa menghampirinya. Ku hanya melihatnya dari kejauhan. Ayah…..!!!
Ya Allah.., Hamba yakin akan hikmah yang tersirat dari semua ini. Mulai saat ini, hati kecil hamba bertekad untuk berjuang menghilangkan mereka yang sok pintar, yang dengan sok bijak dia menghakimi kami yang lemah, yang kebusukan-kebusukannya mereka tututpi dengan harta yang sunnguh hina. Ya Rob…….., izinkan hamba!
Malam hening itu…
Pak Arif, beliau adalah salah satu guru yang sangat kukagumi di universitas baruku ini. Beliau sungguh kharismatik, jujur, tegas, disiplin, dan sangat perhatian terhadap para mahasiswanya. Suatu ketika Beliau berkata:“ Janganlah kita menganggap bahwa semua kesulitan adalah musibah, begitu pula janganlah kita menganggap bahwa semua kebahagiaan adalah anugerah”.
Entah mengapa, akhir-akhir ini…, petuah tersebut selalu mewarnai hari-hariku disetiap ruang dan waktu. Hingga rasanya, tak lagi kudengar kata-kata yang lain. Ya Allah….., apa maksud semua ini???
Malam pergi untuk datang kembali, ia pergi menemani hamba-hamba-Nya di belahan bumi lain untuk bersujud pada-Nya, dan secara perlahan mentari pagi mulai menampakkan senyum nya…
Rutinitas pagi ini, ku lalui dengan penuh suka. Walaupun kicauan burung camar, lambaian hijau daun dan sapaan udara pagi nan sejuk yang telah menjadi “keluarga”-ku, sudah tak kujumpai lagi sejak 3 bulan terakhir ini. Mereka telah berubah. Suara bising buldoser yang berasal dari bangunan-bangunan tua yang berada disamping kost ku seakan menjadi “monster-monster” pengganggu kenyamanan hidup. Tak pernah kubayangkan sebelumnya.…!!
“Nadiyah wewet…… !!! cepat! Kita sudah terlambat 5 menit nih!!.” Kata Nia dan Titi, teman satu kostku. Seperti biasa, aku selalu membuat mereka “menunggu” ketika kami akan berangkat kuliah. Mereka selalu marah-marah kepadaku dalam dua hal. Pertama, ketika mereka harus menungguku ketika akan berangkat kuliah dan kedua, jika kecerewetanku kambuh. Aku memang terkenal cerewet didepan teman-teman, guru-guru dan keluargaku. Hingga aku punya sebutan abadi yang sampai saat ini sangat melekat padaku, yaitu “wewet”, alias Nadiyah cerewet. Apalagi adikku, ia paling gemar memanggilku dengan sebutan itu. Dengan sedikit suara yang dibuat-buat, tak jarang ia membuatku marah dan jengkel. Aku terlahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Keluarga kami adalah keluarga konglomerat yang cukup terpandang. Hal itu membawa pengaruh besar bagiku di sekolah. Akupun cukup terpandang karenanya, namun aku tak buta. Aku sadar semua itu adalah amanah dari Allah.
Tengah pelajaran berlangsung…
“Ya, coba kamu Nadiyah, simpulkan keterangan akhir yang bapak sampaikan tadi.” Suara Pak Arif mengagetkanku. “Jangan kita menganggap bahwa semua kesulitan adalah musibah, begitu pula janganlah kita menganggap bahwa semua kebahagiaan adalah anugerah”. Jawabku sedikit tersentak namun dengan lantang dan penuh keyakinan. “Ha.. ha…ha,” Teman-teman sekelas menertawaiku. “Nadiyah..!! tadi beliau menerangkan kondisi social politik di Negara kita”. kata Iffah teman sebangkuku. Ya Tuhan…, lagi-lagi petuah itu menguasaiku!
TeeeT ……3x
Tak lama setalah bel berbunyi, Iffah memanggilku, “Nadiyaaah!! Pak Arif memanggilmu.” Aku terdiam sejenak lalu dengan cepat memenuhi panggilan Pak Arif. Untuk kesekian kalinya Pak Arif menasihatiku. Dengan suara teduhnya ia bertutur, “Nak… memang kita harus sabar dalam menghadapi hidup. Apapun yang telah tuhan berikan setelah adanya usaha dari kita, itulah yang terbaik. Kita pun pasti bisa melewatinya...”. disaat aku sibuk mencerna kata-kata Pak Arif, tiba-tiba Beliau mengagetkanku, “Oh ya! Bagaimana keadaan keluargamu di rumah? Ayahmu masih bekerja sebagai direktur Bank itu kan? Dan Ibumu?.”Tanya beliau dengan penuh tanya. “Alhamdulillah pak, beliau berdua dalam keadaan sehat dan tetap menjalankan rutinitas masing-masing disetiap harinya.” Jawabku dengan sopan. Pertemuan siang tadi membuat keherananku bertambah, entah mengapa, sejak sebulan terakhir ini, Pak Arif sering menanyakan kondisi keluargaku dan menasihatiku untuk selalu mendo’akan mereka. Namun kuanggap saja hal itu sebagai wujud kasih sayang dari orang yang sangat kuhormati dan kusegani. Hah…Beruntungnya aku, lirih batinku.
Hari berganti hari, aku menjalani roda kehidupanku seperti biasa. Hingga pada suatu hari, tepatnya seminggu setelah Pak Arif memanggilku, perasaanku tak enak. Entah, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tepat ketika bel pulang berbunyi, kembali pak Arif memanggilku. Kali ini, beliau lebih santai dan rileks. Akupun berusaha demikian walaupun sebenarnya hatiku berkecamuk. Panggilan kali ini tak seperti panggilan-panggilan sebelumnya. Beliau datang sendiri memanggilku. Dengan terbata-bata, dan sangat hati-hati, beliau memberi tahuku kabar yang sangat membuatku terpukul. Lebih membuatku terpukul lagi setelah aku tahu ternyata orang tuaku telah mengetahuinya lebih dahulu dari padaku. Mengapa bukan mereka saja yang memberi tahuku, walaupun kutahu mungkin ini kebijakan universitas? bukankah aku anakanya? dan aku bisa menangis dipangkuan mereka setelah mendengar kabar itu meskipun aku tak tahu apa penyebabnya. AKU DIKELUARKAN DARI UNIVERSITAS….!!!
Takut, heran, dan tak habis pikir. Itulah yang berada di benakku saat ini. Tak ada yang menjelaskan sesuatu padaku. Bahkan P. Arifpun tak berkenan menjelaskannya. “Ayah mu yang akan menjelaskan”, jawab beliau. Singkat dan mengundang penuh tanya. Saat ini, aku ingin pulang dan segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pikiranku kian tak menentu. Pada teman-temanku, ku ambil selembar kertas dan sebuah pena,
Sobat ……
Bukan tak ingin untuk selalu bersama kalian. Sayang kalian itu pasti.
Namun saat ini…
Bagai merajut angan dalam mimpi, tak mungkin bersama lagi.
Aku harus beranjak dari pelukan kalian hanya karena masalah yang tak ku mengerti…
Sobat…
Terima kasih atas cinta yang kalian berikan, maaf atas segala alpa…"
Deraian air mata tak pernah lepas dari hari-hariku kini. Pertanyaan dari teman-teman tak ada satu pun yang kujawab. Aku bingung harus menjawab apa. Kuputuskan untuk bungkam.
“Surga” yang kurindu telah didepan mata. Ya Allah… Kuatkan hamba untuk mendengar dan menerima apa yang sebenarnya terjadi…
Kupandangi dan kuciumi mereka satu persatu dengan penuh rasa sayang, keluargaku yang kucinta. Semua tersenyum menyambut kedatanganku. Akupun berusaha tersenyum, walau ku tahu genangan air di mata bening ibu, berusaha dibendungnya. Namun ayah tidak bersama mereka. “Ya, ayah pasti ada di BANK”, batinku.
Ya Allah…! Inikah jawaban dari semuanya? Akankah ayahku melakukan hal ini? Tidak mungkin!! Tidak!!! Ayaaaa…….h!!!.
Segera ku temui ibu untuk meminta penjelasan dari surat yang tak sengaja kutemukan di meja kerja ayah. Dengan isak tangis, Ibu menjelaskan semuanya kepadaku.
Kejadian itu bermula sejak tiga tahun lalu. Beliau dituduh menggelapkan uang BANK. Tiga tahun proses pengadilan dijalani. Selama itu pula, ibuku berusaha tegar dan menyembunyikan masalah ini padaku dan adikku. Namun tak disangka, keputusan akhir tidak memihak pada ayahku. Sejak satu minggu yang lalu, beliau tidak tinggal dengan kami. Dia harus tinggal di rumah barunya selama tiga tahun. Rumah tahanan yang berjarak 5 KM dari rumah kami. Ternyata inilah yang membuatku harus meninggalkan sekolah. Mereka tak mau menerima mahasisiwa yang memiliki riwayat keluarga narapidana. Banyak hal yang ku merasa janggal dengan ketentuan masalah ini. Diantaranya, bermilyar uang dapat membebaskan ayahku dari tuduhan itu. Mengapa harus demikian? Sebegitu besarkah peran uang yang fana itu? Bukankah ini merupakan tindak penindasan hukum bagi yang lemah? Sedang mereka yang mampu, bisa tertawa lepas dengan keputusan itu!
Keesokan harinya …
Aku berusaha tegar melewati jeruji-jeruji besi kotor nan angkuh yang berbaris rapi itu, aku pandangi mereka untuk mencari orang yang kusayangi. Di salah satu ruangan, aku melihat sesosok tubuh yang semakin kurus, mata yang nampak lelah, namun senyum masih selalu menghiasi wajahnya. Tiba-tiba air mataku mengalir deras, sederas tekadku untuk membuktikan ke-tidakbersalahannya dan orang-orang yang telah menjadi ‘korban penindasan hukum’.
Namun aku tak kuasa menghampirinya. Ku hanya melihatnya dari kejauhan. Ayah…..!!!
Ya Allah.., Hamba yakin akan hikmah yang tersirat dari semua ini. Mulai saat ini, hati kecil hamba bertekad untuk berjuang menghilangkan mereka yang sok pintar, yang dengan sok bijak dia menghakimi kami yang lemah, yang kebusukan-kebusukannya mereka tututpi dengan harta yang sunnguh hina. Ya Rob…….., izinkan hamba!
0 Komentar