Televisi merupakan media komunikasi massa yang sangat membumi. Khususnya bagi masyarakat Indonesia sendiri. Awalnya tv bagi masyarakat Indonesia adalah sebagai pusat informasi dan pembelajaran. Mayoritas masyarakat Indonesia memiliki televisi, yang digunakan sebagai mediator pokok informasi. Sehingga bangsa Indonesia, khususnya yang berada di pedesaaan sudah banyak yang merasakan benar manfaatnya. Mereka tidak ketinggalan informasi lagi. Dengan mudah mereka menerima informasi tentang segala hal. Khususnya tentang keadaan bangsa baik dalam segi politik,, pendididkan, sosial dan yang lainnya. Banyak segi positif dari mengetahuinya mereka tentang keadaan Negara. Misalnya saja dari segi pendidikan. Dengan mengetahuinya mereka terhadap pendidikan di Negara, mereka bias mencontoh system-sistem pendididkan sekolah yang ada, walaupun jauh jaraknya. Sehingga mereka bias menerapkan system yang sekiranya perlu dan cocok bagi sekolah-sekolah yang ada disekitarnya. Selain itu, Dengan mengetahui keadaan negara, loyalitas kita terhadap negara juga semakin meningkat.

Namun, semakin hari jati diri televisi Indonesia semakin memudar. Fngsi dari televisi itu sendiri sudah banyak dialihkan dari fungsi aslinya. Banyak acara televisi yang menayangkan acara-acara yang kurang bermanfaat bahkan tidak patut di konsumsi oleh warga Indonesia. Diantaranya gossip yang sering menceritakan tentang kehidupsn artis yang dihiasi dengan perceraian dan cenderung glamour, talk show yang banyak mentemakan tentang cinta atau perjodohan, dan lebih-lebih sinetron yang melegitimasi agama dengan sebutan “Sinetron Religi”. Sedangkan faktanya, walaupun bertemakan religi, di dalamnya justru banyak menggambarkan tentang perceraian rumah tangga, seks bebas, artis-artis yang beropakaian yang tidak sopan, dan adanya hubungan sebelum ikatan perkawinan. Mirisnya justru itu yang lebih melekat kepada penonton ketika melihatnya. Bukan nilai religi yang ada didalamnya. Dengan melihat konteks yang seperti ini, pantaskah mereka menamakan sinetronnya dengan “Sinetron Religi?”

Kuarang ketatnya penyaringan terhadap acara di televisi merupakan salah satu faktor yang sngat berpengaruh terhadap tidak berkualitasnya tayangan yang ada. Yang itu disebabkab oleh kepentingan pribadi mereka. Salah satunya adalah kepentingan pribadi komersial mereka. Mereka rela memasukkan acara yang tidak berkualitas bahkan tidak layak, karena giur akan hasil keuangan yang akan mereka terima.Karena memang pada faktanya, acara seperti itulah yang laku di masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Kita selaku konsumen, enjoy dan tidak sadar bahwa sebenarnya kita memberikan penghasilan yang banyak terhadap mereka dengan mengorbankan diri kita sendiri, yakni dengan menikmatnya kita terhadap suguhan acara yang mereka berikan. Selain itu, masih banyak factor-faktor lain yang mempengaruhinya.

Tak dapat dielak, banyak efek negative pada masyarakat dari tayangan-tayangan semacam diatas. Khususnya bagi anak-anak Indonesia yang masih belum bias memilih dan mempertimbangkan acara yang layak untuk mereka konsumsi. Efek negative yang signifikan bagi mereka diantaranya adalah, mereka akan terpengaruh dengan kehidupan yang diwarnai dengan kemewahan, kekerasan, pertengkaran dan sebagainya. Sehingga besar kemungknan bagi mereka untuk meniru dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu, semangat belajar mereka akan menurun, dan mereka akan dewasa sebelum waktunya.